Petani pada umumnya memperoleh pengetahuan tentang berbagai sistem usaha tani melalui pewarisan leluhur serta trial and error di lapangan dalam kurun waktu yang sangat lama.
Karena itu, mereka menghasilkan sistem pertanian yang sesuai dengan kondisi ekosistem lokal dan sistem sosial ekonomi setempat. Bermacam-macam sistem agroforestri tradisional masyarakat setempat memiliki keanekaragaman jenis dan varietas tanaman yang tinggi. Jadi, struktur varietasnya menyerupai hutan alami. Macam-macam agroforestri tersebut memberikan fungsi ekologis dan sosial ekonomi pentng bagi penduduk.
Fungsi ekologis antara lain konservasi plasma nutfah, habitat satwa liar, konservasi tanah, hidrologi daerah aliran sungai, memberikan kesejukan dan keteduhan. Adapun fungsi sosial ekonomi antara lain menghasilkan produksi tambahan bahan pangan pokok karbohidrat, bumbu masak, sayuran, bahan obat-obatan, kerajinan, industri, kayu bakar, dan bangunan. Selain itu, penduduk juga memiliki kearifan dalam mengawetkan, mengelola dan mengkonsumsi aneka produksi tanaman. contohnya, untuk memasak umbi gagung, biasanya umbi tersebut dikupas kulitnya, diris-iris, dimasukkan dalam karung dan direndam dalam air sungai yang mengalir cukup deras sehingga racun gadung tidak membahayakan kesehatan manusia.
Sementara itu, untuk mengelola ketela pohon agar tahan lama, biasanya umbi tersebut dikupas diris-iris dan dijemur di terik matahari hingga kering menjadi singkong gaplek. Gaplek tersebut biasanya dibiarkan berhari-hari di simpan di atap rumah terkena embun hingga menjadi gatot. Pada umumnya gaplek dan gatot dapat disimpan cukup lama sebagai persediaan pangan penduduk dalam rumah tangga dan penambahan produksi beras.
KEARIFAN LOKAL DAN KETAHANAN PANGAN
Posted by Robin ER15
R15 Updated at: 19.45

0 komentar:
Posting Komentar